Sabtu, 20 November 2010

DISEMINASI (PERANAN STAKEHOLDER) DALAM MASALAH PENYAKIT MALARIA DAN PD3I

Diseminasi adalah Penyebarluasan informasi surveilans kepada pihak yang berkepentingan (stakeholders), agar dapat dilakukan action secara cepat dan tepat.

Stakeholder adalah orang-orang dan atau badan yang berkepentingan atau terlibat dalam pelaksanaan program pembangunan kesehatan.
A.Peranan Stakeholders dalam penyakit malaria

1.Departemen Kesehatan
Peran Departemen Kesehatan yaitu membuat kebijakkan mengenai pengendalian malaria, seperti:
a.Diagnosa Malaria harus terkonfirmasi atau Rapid Diagnostic Test

b.Pengobatan Menggunakan Combination Therapy/ ACT

c.Pencegahan penularan malaria dengan kelambu (Long Lasting Insekticidal Net)

d.Kerjasama lintas sektor dalam forum gebrak malaria dan lintas program

e.Memperkuat Desa Siaga dengan pembentukan Pos Malaria Desa (Posmaldes )

2.Dinas kesehatan Kabupaten atau Provinsi
Peran:

a.Membuat kebijakan dalam pengendalian vektor penyakit malaria dan melakukan control terhadap pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan.Kebijakan tersebut antara lain :

1)Pelatihan petugas

2)Penemuan aktif penderita

3)Penatalaksanaan kasus dan pengobatan

4) Pengendalian vector, antara lain :

a)Penemuan penderita malaria baik secara aktif melalui kegiatan Mass Blood Survey (MBS) maupun pasif (rutin puskesmas)

b)Pembagian kelambu berinsektisida kepada masyarakat miskin, ibu hamil, bayi dan balita

c)Screening malaria bagi ibu hamil saat kunjungan trimester pertama pada tenaga kesehatan

d)Penyemprotan dinding luar rumah (Indoor Residual Sprying)

b.Sebagai advokasi dalam masalah pemberantasan masalah malaria di tingkat kabupaten/Propinsi

c.Berperan dalam mengkoordinasikan masalah penyakit malaria di tingkat pemda dan
di unit-unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Propinsi

d.Berperan dalam pemantauan dan pengawasan kasus malaria di tingkat kabupaten/Propinsi

e.Berperan dalam membuat perencaan kebutuhan logistic dalam pemberantasan penyakit malaria

f.Berperan dalam mengadakan tindaklanjut/action dalam mengatasi penyakit malaria.

3.Puskesmas

a.Berperan dalam pengumpulan, pengolahan, analisa, dan interpretasi data penyakit malaria diwilayah kerja puskemas

b.Pelaksana program kegiatan malaria di wilayah kerja Puskesmas

c.Sebagai dasar dalam kerja sama lintas program dan lintas sektoral

d. Berperan dalam mensosialisasikan tentang malaria kepada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas

e. Berperan dalam pemberantasan penyakit malaria

f. Melaksanakan kegiatan pengobatan dan penangangan penderita penyakit malaria

g.Berperan sebagai pembuat kebijakan di bidang malaria untuk daerah kabupaten yang bersangkutan

4.Kecamatan/Aparat Desa

a.Membantu/mendukung kegiatan program malaria yang di selenggarakan oleh Puskesmas yang terdapat di kecamatan tersebut

b.Menggerakan masyarakat agar ikut berpartisipasi dalam kegiatan program malaria

5.Rumah sakit

a.Berperan dalam memberikan pelayanan pengobatan pada penderita penyakit malaria terutama yang memerlukan perawatan inap

b.Mendukung kegiatan program malaria yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kebupaten/pemda

6.Kader Kesehatan

a.Membantu petugas kesehatan dalam melaksanakan program malaria di msyarakat

b.Membantu aparat desa/petugas kesehatan dalam menggerakan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam program malaria yang diselenggarakan/dilaksanakan di tempat tinggal mereka

c.Sebagai leader bagi masyarakat disekitar mereka.

7.Masyarakat
Melalui peningkatan peran serta masyarakat di Lingkungan, Kelurahan, Kecamatan.
Kegiatannya berdasar azas musyawarah melalui rapat atau pertemuan RT/RW beberapa keluarga secara periodik membahas program kerja atau mengevaluasi pelaksanaan kegiatan yang sudah dilaksanakan berkaitan dengan revitalisasi, perbaikan dan pembangunan saran prasarana kesehatan lingkungan menyangkut penanggulangan penyakit malaria.

B.Peranan Stakeholders dalam Penyakit PD3I
PD3I adalah salah satu program Nasional yang indikator keberhasilannya tergantung dari kabupaten/kota untuk menggerahkan desa-desanya agar dapat mencapai UCI (Universal Child Immunization) yaitu cakupan imunisasi harus mencapai diatas 80% dari seluruh sasaran populasinya. Penyakit yang dapat di cegah tersebut adalah TBC, Tetanus, Diptheri, Pertusis, Polio, Campak dan Hepatitis B. Penyakit ini disamping dapat menimbulkan kematian, kesakitan juga kecatatan, bahkan apabila tidak ditangani secara maksimal dapat menular dan mengakibat kejadian luar biasa (KLB). Salah satunya upaya pencegahan yang menyeluruh hanya dengan pemberian imunisasi. Namun sangat disayangkan cakupan pemberian imunisasi dibeberapa kabupaten di Indonesia masih sangat rendah. Oleh karena itu diperlukan adanya peran stakeholder untuk mengoptimalkan program yang telah dicanangkan. Ada beberapa Stakeholder yang dapat berperan yaitu :

1.Dinas Kesehatan Kabupaten/propinsi

a.Sebagai advokasi dalam masalah pemberantasan masalah penyakit PD3I
di tingkat kabupaten/Propinsi

b.Berperan dalam mengkoordinasikan masalah penyakit PD3I ditingkat pemda dan
di unit-unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Propinsi

c.Berperan dalam pemantauan dan pengawasan kasus PD3I di tingkat kabupaten/Propinsi

d.Berperan dalam membuat perencaan kebutuhan logistic imunisasi

e.Berperan dalam mengadakan tindaklanjut/action dalam mengatasi penyakit PD3I

2.Puskesmas

a.Berperan dalam pengumpulan, pengolahan, analisa, dan interpretasi data penyakit PD3I diwilayah kerja puskemas

b.Pelaksana Kegiatan Imunisasi di wilayah kerja Puskesmas

c.Sebagai dasar dalam kerja sama lintas program dan lintas sektoral

d.Berperan dalam mensosialisasikan tentang penyakit PD3I kepada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas

e.Berperan dalam memberikan pelayanan pengobatan dan penanganan penyakit PD3I

f.Melaksanakan kegiatan pengobatan dan penangangan penderita penyakit malaria

3.Kecamatan/Aparat Desa

a.Membantu/mendukung kegiatan program PD3I yang di selenggarakan oleh Puskesmas yang terdapat di kecamatan tersebut

b.Menggerakan masyarakat agar ikut berpartisipasi dalam kegiatan program penyakit PD3I

4.Posyandu

a.Membuat program pemberian imunisasi dasar secara berkala kepada bayi dan balita

b.Membuat program penyuluhan pemberian imunisasi kepada ibu ibu dan remaja ataupun masyarakat

5.Kader Kesehatan

a.Membantu petugas kesehatan dalam melaksanakan kegiatan imunisasi terutama pada saat posyandu

b.Membantu aparat desa/petugas kesehatan dalam menggerakan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam program penyakit PD3I yang diselenggarakan/dilaksanakan di tempat tinggal mereka

c.Sebagai leader bagi masyarakat disekitar mereka

6.Departeman Agama/Kantor Urusan Agama
Berperan dalam kerja sama dibidang imunisasi bagi para jemaah haji atau imunisasi bagi pengantin baru.

7.Sekolah Dasar

a.Berperan dalam membantu dan mendukung terlaksananya kegiatan imunisasi di sekolah bagi murid sekolah Dasar, misalnya pada saat kegiatan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah)

b.Membantu dalam menyiapkan murid-murid/ keperluan lainya dalam kegiatan imunisasi di sekolah

c.Membantu dalam mensosialisasikan tentang pentingnya imunisasi bagi murid sekolah kepada orang tua murid.

8.Dinas Pendidikan
Mendukung pelaksaan imunisasi di sekolah-sekolah, dengan memberikan kebijakan/surat edaran bagi sekolah-sekolah agar bersedia untuk membantu dan berpartisipasi dalam kegiatan imunisasi bagi murid sekolah.

Minggu, 07 November 2010

Macam-macam desain penelitian

A. Cross sectional
Pengertian
Adalah penelitian non eksperimental dalam rangka mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek yang berupa penyakit atau status kesehatan tertentu hanya dengan model pendekatan poin time (pada satu waktu)
Kelebihan:
a)Memungkinkan penggunaan populasi dari masyarakat umum tidak hanya mencari pengobatan
b)Relatif mudah, murah dari segi biaya, dan hasilnya dapat diperoleh dengan cepat
c)Dapat dipakai untuk meneliti banyak variabel sekaligus
d)Tidak terancam DO/gagal karena waktu singkat
e)Dapat dimasukkan pada tahap pertama penelitian kohort/eksperimental
f)Dasar penelitian lebih lanjut
Kekurangan:
a)Sulit menentukan sebab akibat karena pengambilan data dilakukan pada saat bersamaan
b)Tidak menggambarkan perjalanan penyakit insidens tapi bisa melihat prevalensi
c)Dibutuhkan subyek penelitian yang besar, apalagi bila variabel yang dipelajari banyak
d)Tidak praktis untuk meneliti kasus yang jarang
e)Faktor resiko kadang-kadang sulit untuk diukur dengan akurat
f)Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan
g)Kesimpulan korelasi faktor resiko dengan efek paling lemah, dibandingkan case control dan cohort
Manfaat penelitian cross sectional adalah untuk mengetahui resiko prevalensi antara variabel faktor resiko dan efek.
Contoh:
Dari hasil pemeriksaan pada 3000 balita didapatkan hasil sebagai berikut:
Jumlah balita yang menderita kecacingan sebanyak 1500 jiwa. Dari 1500 jiwa tersebut yang menderita gizi buruk sebanyak 600 balita, jumlah total balita gizi buruk sebanyak 750 jiwa.
Ada 4 kemungkinan:
a)Gizi buruk dan Kecacingan
b)Gizi buruk dan tidak kecacingan
c)Tidak gizi buruk dan kecacingan
d)Tidak gizi buruk dan tidak kecacingan
B. Case control
Pengertian
Adalah penelitian epidemiologi analitik observasional yang mengkaji hubungan antara efek dengan faktor resiko tertentu dengan model pendekatan penentuan efek terlebih dahulu, kemudian diamati faktor resiko yang lalu yang diduga sebab terjadinya efek.
Kelebihan:
a)Sangat cocok untuk meneliti kasus yang jarang dan masa latennya panjang
b)Hasil dapat diperoleh dengan cepat
c)Biaya relatif lebih sedikit
d)Memerlukan subyek penelitian yang lebih sedikit
e)Memungkinkan untuk mengidentifikasi berbagai faktor resiko sekaligus
Kekurangan:
a)Sering terjadi recall bias dan data sekunder kadang tidak begitu akurat
b)Validasi mengenai informasi kadang-kadangsukar diperoleh
c)Info tentang insidens rate tidak ada
d)Kadang sukar mengendalikan faktor eksternal dan sumber bias lain karena kasus dan kontrol dipilih oleh peneliti
Manfaat penelitian case control adalah untuk mencari seberapa jauh faktor resiko mempengaruhi terjadinya penyakit.
Contoh: Disuatu kecamatan ditemukan kematian neonatus yang masih sangat tinggi, antara lain karena pemotongan tali pusat yang tidak steril mencegah kematian neonatus.
1.Menentukan pertanyaan penelitian dan hipotesis
Pemotongan tali pusat yang tidak steril menambah angka kejadian kematian neonatus daripada pemotongan tali pusat yang steril.
2.Mengidentifikasikan variabel penelitian
3.Menentukan subyek penelitian
4.Mengukur variabel
5.Melakukan analisis

C. Cohort
Pengertian
Adalah studi penelitian epidemiologi analitik observasional yang mengkaji hubungan antara efek dengan faktor resiko tertantu dengan model pendekatan waktu secara longitudinal dan causa diidentifikasi lebih dahulu kemudian diikuti sampai periode waktu tertentu untuk melihat efek yang diteliti.
Kelebihan:
a)Desain yang terbaik dalam menentukan insidens perjalanan penyakit/efek yang ditelti
b) Cocok untuk menerangkan hubungan dinamika faktor resiko dan efek secara temporal
c)Dapat dipakai untuk melhat beberapa efek sekaligus akibat suatu faktor resiko
Kekurangan:
a)Memerlukan waktu yang lama
b)Sarana, waktu, tenaga, biaya besar
c)Kurang cocok untuk meneliti kasus yang jarang terjadi
d)DO
e)Mungkin terjadi perubahan intensitas pajanan yang dapat mengganggu analisis hasil
f)Terbentur masalah etika
Manfaat penelitian cohort adalah untuk mencari besarnya insiden
Contoh : Suatu penelitian, ingin mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dengan Ca paru. Total sampel yang diambil sebanyak 9170 orang. Dari jumlah tersebut yang merokok sebanyak 2326 orang. Setelah diamati selama 3 tahun, jumlah penderita Ca paru sebanyak 202 orang dan 76 diantaranya ternyata berasal dari kelompok yang memiliki kebiasaan merokok.
1.Menetapkan pertanyaan dan hipotesis
2.Menentukan populasi
3.Mengidentifikasi variabel
4.Melakukan pengukuran variabel-variabel
5.Mengamati timbulnya efek
6.Menganalisa data.
NIM : 25010110151022

Kamis, 21 Oktober 2010

KRITERIA KAUSAL EPIDEMIOLOGI

Kriteria untuk kesimpulan kausal menjadi isu yang penting dan kontroversial dengan dibentuknya Advisory Comitte pertama untuk Surgeon General on Health Consequences of Smoking. Pada laporan lembaga ini di tahun 1964, komite ini memperlihatkan daftar “kriteria epidemiologis untuk kausalitas” yang mana oleh Sir Austin Bradford Hill kemudian diurai lagi dalam tulisan klasiknya tahun 1965 President Address to the newly formed Section of Occupational Medicine dari Royal Society. Kriteria yang dibuat Hill secara luas diketahui sebagai basis untuk menyimpulkan kausal-kausal.
Pertanyaan mendasarnya adalah:
1. Apakah asosiasi ini nyata atau artefaktual?
2. Apakah asosiasi ini sekunder terhadap kausa “asli”

TEORI KAUSAL MENURUT BRADFORD HILL :
A. Kekuatan asosiasi-semakin kuat asosiasi, maka emain sedikit hal tersebut dapat merefleksikan pengaruh dari faktor-faktor etiologis lainnya. Kriteria ini membutuhkan juga presisi statistik (pengaruh minimal dari kesempatan) dan kekakuan metodologis dari kajian-kajian yang ada terhadap bias (seleksi, informasi, dan kekacauan)
B. Konsistensi-replikasi-replikasi dari temuan oleh investigator yang berbeda, saat yang berbeda, dalam tempat yang berbeda, dengan memakai metode berbeda dan kemampuan untuk menjelaskan dengan meyakinkan jika hasilnya berbeda.
C. Spesifisitas dari asosiasi-ada hubungan yang melekat antara spesifisitas dan kekuatan yang mana semakin akurat dalam mendefinisikan penyakit dan penularannya, semakin juat hubungan yang diamati tersebut. Tetapi, fakta bahwa satu agen berkontribusi terhadap penyakit-penyakit beragam bukan merupakan bukti yang melawan peran dari setiap penyakit.
D. Temporalitas-kemampuan untuk mendirikan kausa dugaan bahka pada saat efek sementara diperkirakan
E. Tahapan biologis-perubahan yang meningkat dalam konjungsi dengan perubahan kecocokan dalam penularan verifikasi terhadap hubungan dosis-respon konsisten dengan model konseptual yang dihipotesakan.
F. Masuk akal-kami lebih siap untuk menerima kasus dengan hubungan yang konsisten dengan pengetahuan dan keyakinan kami secara umum. Telah jelas bahwa kecenderungan ini memiliki lubang-lugang kosong, tetapi akal sehat selalu saja membimbing kita
G. Koherensi-bagaimana semua observasi dapat cocok dengan model yang dihipotesakan untuk membentuk gambaran yang koheren?
H. Eksperimen-demonstrasi yang berada dalam kondisi yang terkontrol merubah kausa bukaan untuk hasil yang merupakan nilai yang besar, beberapa orang mungkin, mengatakannya sangat diperlukan, untuk menyimpulkan kausalitas
I. Analogi-kami lebih siap lagi untuk menerima argumentasi-argumentasi yang menyerupai dengan yang kami dapatkan

UKURAN FREKUENSI PENYAKIT

Insidens komulatif (insidens risk)
Adalah gambaran tentang frekuensi kasus baru yang ditemukan pada suatu waktu tertentu di satu kelompok masyarakat.
Cara menghitung insidens risk :

Insidens komulatif = Jumlah kasus baru selama periode tertentu dibagi dengan Jumlah orang yang beresiko pada permulaan waktu


Insidens rate
Adalah gambaran tentang frekuensi kasus baru yang terjadi di masyarakat selama periode waktu tertentu.
Cara menghitung insidens rate :


Insidens rate = Jumlah kasus baru ssuatu penyakit pada periode tertentu dibagi dengan Populasi yang mempunyai resiko pada periode waktu tertentu


Prevalens rate
Adalah gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang ditemukan pada suatu waktu tertentu di kelompok masyarakat tertentu.
Cara menghitung prevalens rate :

Prevalens rate = Jumlah kasus-kasus penyakit yang ada pada suatu waktu dibagi dengan Jumlah penduduk seluruhnya pada suatu waktu